Berevolusi dan Bermutasi, Adaptasi atau Pasti Mati

Berevolusi dan Bermutasi, Adaptasi atau Pasti Mati

Konon, makhluk homo sapien di Bumi yang lebih dikenal dengan sebutan manusia, selama ini hanya menggunakan 10 persen saja dari kapasitas kemampuan otaknya.

Walaupun begitu, dalam banyak penelitian – penelitian menyebutkan, kalau otak manusia sebenarnya sudah bekerja secara maksimal, bahkan pada saat tertidur.

Meski demikian, hanya dengan pemanfaatan 10 persen kapasitas otak tersebut para manusia mampu berevolusi dan ber adaptasi mendominasi di muka bumi, tanpa terkecuali.

Tak hanya sekedar digunakan ber adaptasi untuk hidup di lingkungan sekitar, kemampuan tersebut juga menjadi dasar dalam menjalani aktivitas sehari – hari.

Mulai dari teori evolusi primata sampai manusia primitif di zaman purba dengan kemampuan bertahan hidup di alam liar, hingga menjadi manusia modern yang mampu membangun peradaban.

Dari sekedar aktivitas berproduksi mengumpulkan bahan pangan, hingga mampu menciptakan konstruksi sosial, keyakinan, dan nilai – nilai bermasyarakat yang dinamakan norma dan aturan.

Silih berganti roda berputar, kehidupan selalu bergerak dinamis dan terjadi pengulangan terus menerus dalam kehidupan manusia, entah disebut nasib atau jalan takdir.

Kunci adaptasi dan pengembangan diri bagi setiap manusia menjadi sesuatu yang mutlak dalam menyikapi setiap perubahan yang cepat dalam satu rentang periode masa waktu.

Dari generasi orangtua jadul yang merasa keren dengan celana cutbray nongkrong di warung kopi, hingga adaptasi generasi milenial yang merasa paling edgy kalau sudah nongkrong di coffe shop gaul.

Bermutasi dalam gaya dan pola pikir menjadi keharusan kalau tidak mau dilindas zaman atau dibilang ketinggalan. Menjadi penting tidak lagi berarti, terganti dengan pentingnya menjadi banyak (dan masif).

Mereplikasi trend yang telah ada atau menemukan inovasi โ€“ inovasi baru dari hasil adaptasi menjadi jamak dan umum tanpa harus merasa dibatasi dengan larangan โ€“ larangan tabu dan tradisi.

Seiring berkembangnya manusia, adaptasi menjadi lebih cepat dengan kehadiran teknologi yang selalu berganti, melangkah semakin terdepan hingga menembus batas โ€“ batas kebutuhan.

Terpedaya yang melenakan atau senjata kesejahteraan manusia ? pada akhirnya ber adaptasi menjadi bijaksana merupakan barang langka dalam menyikapi perubahan yang lahir dari 10 persen kemampuan otak manusia.

 

Hery Priyono
Kota Semarang, 14 February 2023
(esai 22 April 2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top